Pilpres 2019, Mau Milih Kepala Keluarga atau Kepala Negara?

digtara | diambil dari FB Ibnu Arsib

Akhir-akhir ini test baca Al-Qur’an pada kedua pasangan Calon Presiden Republik Indonesia (Capres RI) sangat banyak dibicirakan oleh masyarakat Indonesia. Para netizen begitu gencar membagikan terkait tes baca Qur’an untuk kedua pasangan Capres RI di Pilpres 2019 yakni pasangan Nomor urut 01 Joko Widodo – Ma’ruf Amin dan Nomor urut 02 Prabowo Subianto – Sandiaga Uno. Tidak sedikit juga warga media sosial online memberikan komentar yang sejuk, dan ada juga komentar yang sedikit pedas.

Entah apa maksud isu ini beredar dan entah apa pula maksud tujuan yang membuat isu ini? Apakah ini bagian dari pada indikator kemusliman kedua pasangan calon atau hanya sekedar melempar isu-isu yang seharus tidak perlu lagi diperdebatkan. Apakah isu ini diedarkan untuk menjatuhkan salah satu calon, atau bagaimana?

Muat Lebih

Apakah kita tidak percaya lagi bahwa kedua pasangan calon adalah putra ibu pertiwi ini, yang sudah lama memeluk Islam? Atau ini hanya sekedar pengalihan isu kampanye belaka? Sungguh suasana ini menurut saya agak menggelitik.

Dalam sistem pemilihan Presiden dan Wakil Presiden RI, adakah syarat bahwa apabila tidak bisa membaca Al-Qur’an maka akan dinyatakan gagal? Atau itu lah ukuran seseorang benar-benar dinyatakan sebagai Muslim yang taat? Hal ini bukan berarti saya tidak menyepakati adanya suatu tradisi membaca Al-Qur’an. Sebagai seorang Muslim, kita ditekankan oleh Allah Swt dan Rasullullah Saw agar membaca Al-Qur’an. Akan tetapi, mengapa hal ini menjadi “gorengan” isu dari berbagai pihak, sehingga kita lupa ada hal-hal lain yang harus disampaikan kepada kedua pasangan calon. Bukan pula saya melepaskan agama dari urusan kenegaraan. Bagi saya urusan dunia tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari.

Pilres 2019 ini rasanya seperti menonton drama saja. Banyak masyarakat tidak jauh memandang ke esensinya. Apa yang terjadi jika demikian? Yang terjadi adalah demokrasi yang tidak melahirkan nilai-nilai. Masyarakat hanya memandang identitasnya saja, tapi lupa pada subtansinya. Kalau tidak menonton seperti drama, rasanya seperti hendak memilih kepala keluarga (calon suami) yang diuji dengan membaca Qur’an terlebih dahulu oleh calon istri atau keluarga calon istri (dalam hal ini keluarga yang beragama Islam). Bukan berarti saya menurunkan esensi dari pada membaca Al-qur’an, oh sungguh tidak. Bukan saya juga menganggap rendah posisi kepala keluarga dibanding kepala negara, oh sungguh juga tidak.

Hal-hal seperti itu kiranya sudah tuntas tidak menjadi fokus utama pembicaraan dan perdebatan setiap orang. Bisa atau tidak bisanya mereka membaca Al-qur’an, saya pikir pasti bisa baca. Tetapi, jika melihat siapa yang paling baik dan paling buruk bacaannya, menurut saya itu relatif. Maksud saya relatif adalah tergantung tingkat penguasaan mereka tentang hukum membaca Al-qur’an dan sesering apa mereka membaca Al-Qur’an setiap hari.

Sekarang, yang harus kita uji dan yang harus kita minta sebagai bentuk pendapat serta aspirasi adalah mampukah mereka mengelola negara dan bangsa ini menjadi lebih baik.? Sampai dimana bukti akan yang mereka perbuat selama ini. Artinya, kita sebagai warga negara Indonesia melihat bagaimana dan apa yang dikerjakannya selama ini. Bukan hanya dalam kata-kata saja, akan tetapi harus dengan perbuatan.

Jika hanya berkata, “Jika saya terpilih, maka nanti saya akan bangun negara Indonesia ini. Saya akan lunasi utang-utang negara kita. Saya akan bangun banyak lapangan pekerjaan di negara kita. Dan akan saya jadikan negara kita menjadi negara yang disegani dan juga ditakuti oleh negara lain. Hal seperti itu, anak kecilpun bisa. Bahkan, burung Beo pun bisa berkata seperti itu.

Kalau kata orang bijak, untuk melakukan sesuatu maka lakukanlah hal sederhana dahulu. Memimpin keluarga atau menjadi kepala keluarga adalah hal yang sangat sederhana. Mohon maaf saya mengatakan ini walaupun saya belum menjadi kepala keluarga. Saya hanya meneruskan banyak orang berkata seperti demikian. Saya pikir itu benar sekali.

Mengapa hal itu masih sederhana, karena yang diurusi dan yang dipimpin hanya beberapa orang; isteri dan anak-anak. Walau itu sangat sederhana, tapi menjadi suatu tolak ukur dari kualitas kepemimpinan kita. Dapat menjalin keluarga yang harmonis dan tidak terpecah belah. Saya pikir, nilai atau substansi dalam memimpin keluarga sangat tepat untuk diterapkan dalam memimpin negara, walau dalam lingkup yang lebih besar.

Dari Pilpres 2019 yang akan berlangsung beberapa bulan lagi adalah merupakan memilih Kepala Negara. Karena hal ini menyangkut banyak orang, termasuk setiap orang di dalamnya. Maka kita harus benar-benar pada substansi dan esensinya. Hari ini kita bukan memilih yang harus Islam. Kedua pasangan calon kita ketahui sudah beragama Islam dengan waktu yang sudah lama. Esensinya adalah memilih pemimpin yang mempunyai kualitas yang ditunjukkan lewat perbuatan. Bukan hanya dengan kata-kata hingga sampai pada kata umbaran kebencian atau hoaks.

Jangan sampai bangsa Indonesia dipecah belah. Jangan sampai kesatuan dan persatuan dari berbagai suku, agama, ras dan golongan diadu domba sehingga membuat ibu pertiwi meringih kesakitan.

Sejatinya Pilpres ini adalah memilih putra-putra bangsa yang menjadi kepala negara dan siap mengabdi untuk bangsa serta negara.

Penulis: Ibnu Arsib (Pegiat Literasi)

Pos terkait