Hemat Biaya, Kayu Bakar Diganti dengan Oli Bekas Merebus Ikan

Digtara.com | SIBOlGA – Siapa sangka oli bekas hasil pembakaran kendaraan bermotor, kini bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk memasak perebusan ikan.

Hal ini dilakukan oleh Parningotan Purba seorang penggiat perikanan di kota sibolga.

Muat Lebih

Ditemui di lokasi perebusannya di jalan ketapang Gang Nias kelurahan Sibolga Ilir, Rabu (15/5/2019) Parningotan menceritakan ide pemikirannya merubah pola perebusan ikan miliknya dari menggunakan kayu bakar menjadi oli bekas.

Awalnya berpikir untuk melakukan penghematan, karena biaya yang sangat tinggi menggunakan kayu bakar, ditambah sulitnya memperoleh kayu sebagai bahan utama merebus ikan, menjadi faktor utama melakukan inovasi,” ungkap Pria berusia 41 tahun yang lalu.

Untuk memperoleh hasil tersebut, parningotan hanya mengeluarkan biaya sekitar Rp1,2 Juta, dengan beberapa kali percobaan hingga mendapat hasil yang di harapkan.

“Cukup murah biaya pembuatannya, hanya mempergunakan bahan – bahan bekas yang tidak terpakai, seperti drum sebagai tangki oli, pipa besi, kran pengontrol oli, kemudian blower ukuran 3 inchi. Dan semua Biaya nya sekitar Rp1,2 juta,” terangnya.

Saat ditanya perbandingan pengeluaran biaya mempergunakan kayu bakar atau oli bekas, ia menjawab murah menggunakan oli bekas.

“Pastinya menggunakan oli bekas lah, dengan menggunakan oli bekas biaya lebih murah, sekali merebus ikan sebanyak 4 Ton, saya hanya mengeluarkan biaya sebesar Rp 350 ribu untuk 1 Drum Oli bekas, sedangkan menggunakan kayu bakar biaya yang dikeluarkan Rp, 1,4 Juta,” tutur parningotan yang sedang mengaduk ikan di atas tungku.

Tak hanya itu, Parningotan juga mengaku tidak kesulitan untuk mencari oli bekas. “Beda, kayu nyari kayu, susah. Kalau oli bekas, banyak, kapan saja kita mau, ada. Kita beli dari bengkel-bengkel,” ungkapnya.

Dalam upaya nya memanfaatkan oli bekas sebagai bahan bakar, pria berkulit hitam ini mengaku secara tidak langsung ikut menyelamatkan hutan dari penebangan liar. Dengan beralihnya mereka dari kayu, secara otomatis juga mengurangi jumlah pemakaian kayu.

“Kalau pemakaian kayu bakar dikurangi, otomatis juga akan mengurangi aktifitas penebangan hutan. Karena, kayu yang kita beli itu berasal dari hutan,” pungkasnya.

Harapannya kedepan, pengusaha lainnya beralih menggunakan bahan bakar yang ramah lingkungan.

“Kalau kita pakai oli, asap sudah tidak ada lagi sewaktu memasak. Tidak seperti pakai kayu, asapnya banyak, mengganggu orang lain. Kalau ini, ramah lingkungan, tidak mengganggu orang lain dan tentunya tidak lagi mengganggu hutan,” sebut Parningotan sembari tersenyum

Pos terkait