Warga Latu Kecam Aksi Brutal Brimob Amahai Yang Tewaskan Warga

  • Whatsapp
banner 468x60

digtara.com | AMBON – Warga desa Latu Kecamatan Amalatu Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) mengecam aksi brutal dan anarkis yang dilakukan aparat Detasemen B Pelopor Satuan Brimob Amahai yang menembak tiga warga desa Latu pada Rabu 15 Mei kemarin.

Muhammad Patty salah satu tokoh masyarakat desa Latu mengatakan kejadian itu merupakan rentetan peristiwa konflik antar dua desa tangga Latu dan Hualoy yang mengalami jalan buntut dalam upaya perdamaian. Menurutnya, berbagai aksi unjuk rasa dilakukan oleh masyarakat kedua desa sebagai protes reaksi represif kepada pemerintah.

Muat Lebih

banner 300250

Ia menceritakan pada Rabu (15/11/2019) sekira pukul 21.30 WITA,  kejadian tersebut berawal saat warga desa Latu memprotes aksi penangkapan salah satu pemuda desa setempat yang diduga pelaku pembunuhan warga desa Hualoy Syamsul Lussy dengan menghalau rombongan Brimob yang baru tiba dari Masohi.

Lalu terjadi penembakan terhadap warga desa Latu, akibat aksi penembakkan tersebut, satu orang warga atas nama Sulaiman Patty meninggal dunia dan dua orang lainnya mengalami luka tembak, yaitu Mukhtar Patty dan Asnawi Patty.

“Disaat yang sama terjadi adu mulut antara aparat Brimob dengan warga desa Latu, kemudian terdengar bunyi tembakan sebanyak lima kali kearah warga dengan jarak 15 meter yang menewaskan Sulaiman Patty dan melukai dua warga lainnya,” ujar Muhammad Patty melalui rilis yang diterima media ini, Kamis (16/05/2019).

Melihat tiga warga jatuh tersungkur, kemudian aparat Brimob dilempari dengan kayu, batu dan tiga buah bom rakitan. Serentak aparat Brimob membalas reaksi warga dengan tembakan beruntun selama 10 menit ke arah warga dan pemukiman warga sehingga merusak beberapa rumah warga.

Ia pun menilai apa yang diperlihatkan aparat Detasemen B Pelopor Satuan Brimob Amahai sangat brutal , emosional dan seolah menganggap warga sebagai musuh.

Padahal menurutnya, aksi protes yang dilakukan warga Latu sama sekali tidak mengancam keselamatan aparat keamanan.

“Atas kejadian ini, kami warga Latu menuntut agar Komandan Lapangan Brimob Detasemen B Pelopor harus secara ksatria menyerahkan anak buahnya pelaku penembakan untuk diproses hukum,” tegasnya.

Selain itu, warga juga menuntut pelaku penembakan warga Latu harus dipecat dari institusi Brimob. Mereka juga meminta, Komandan Lapangan Brimob Detasemen B Pelopor harus menjadi jaminan bila dalam proses pengusutan, pencarian pelaku mengalami jalan buntu.

“Brimob bukan aparat satu golongan, melainkan aparat negara. Oleh sebab itu, wajib melindungi warga negara dalam keadaan apapun,” tandasnya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol. Roem Ohorat mengatakan, anggota Brimob dari Masohi hari itu diserang saat di desa Latu dari depan, belakang maupun kiri kanan. Anggota hanya bertahan sambil mundur perlahan sambil melepaskan tembakan. Kejadian tersebut mengakibatkan satu orang korban meninggal dunia, dan dua orang lainnya mengalami luka.

“Kami tidak bisa mengelak bahwa ini akibat daripada tembakan anggota brimob. Kami tidak bilang bahwa itu tidak, tapi saya juga tidak bilang bahwa itu iya,” tutur Ohoirat.

Dia mengaku, masyarakat juga melakukan penembakan terhadap pihak aparat dari depan dan dari belakang. Jadi tidak tau yang bersangkutan korban ini akibat dari pelurunya siapa.

“Kalau memang masyrarakat itu adalah keluarga korban dan menghendaki, bisa kita lakukan otopsi, dari otopsi itu kita bisa tau bahwa korban ini meninggal karena peluru jenis apa,” jelasnya.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60