Polisi Ungkap Kasus Traficking Bermoduskan TKI ke Malaysia

Digtara | Kedua tersangka sedang dirilis oleh Polda NTT

Digtara.com | KUPANG – Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) mengamankan dua orang pelaku dalam kasus Tindak Pidana perdagangan orang (TPPO). Kedua tersangka yakni DS (38), warga RT 30/RW 11 Kelurahan Babau, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang dan AD (20), warga kilometer 12 Bolaplelo Desa Oelbubuk Kecamatan Mollo Tengah Kabupaten Timor Tengah Selatan.

DS sendiri merupakan petugas lapangan dari J (pelaku lainnya) yang berdomisili di Batam Kepulauan Riau, Selasa (11/6/2019).

Muat Lebih

Wadir Reskrimum Polda NTT AKBP Anton Ch Nugroho mengatakan kedua pelaku sudah berstatus tersangka dan saat ini petugas masih melakukan pengejaran terhadap pelaku lainnya yang berinisial ‘J’. Penangkapan pertama kali dilakukan terhadap tersangka AD pada 20 Mei 2019 lalu di Atambua, Kabupaten Belu, NTT setelah sebelumnya menjadi buron karena melarikan diri pada saat penangkapan sedangkan DS ditangkap pada 1 Juni lalu.

“tersangka AD merupakan anak buah dari DS. Kasus ini sendiri sudah ditangani Polda NTT pada 18 April lalu,” katanya.

Korban dalam kasus ini, beber Anton yakni wanita berinisial MST (16) yang tidak tamat sekolah SMP dan merupakan warga Desa Oelbubuk Kecamatan Mollo Tengah Kabupaten TTS. Korban direkrut oleh AD dari daerah asalnya dengan janji akan diberikan pekerjaan yang layak di dalam negeri.

Setelah dijemput dari daerah asalnya, korban dibawa ke Kupang dan ditampung selama lima hari di rumah YN (saksi), kemudian diserahka ke DS untuk diproses menjadi TKI ilegal di Malaysia.

“jadi sindikat ini memalsukan dokumen MST dengan menggunakan alamat palsu tanpa ada tanda tangan serta surat resmi pemerintah setempat,” ungkap Anton.

Terungkapnya kasus ini, saat korban akan diberangkatkan dari Bandara El Tari Kupang. Saat petugas melakukan pemeriksaan identitas, korban tidak dapat memperlihatkan salinan yang resmi hingga akhirnya diamankan oleh tim Satgas Nakertrans, NTT.

Dari hasil pemeriksaan, terungkap kalau DS dan AD sudah berulang kali merekrut TKI ilegal tanpa dokumen resmi dan mengirim ke Malaysia. ”
Tersangka DS sendiri sudah tiga kali dilaporkan dalam kasus yang sama. Dan sedang kami proses semua laporannya,” bebernya.

Anton menjelaskan dari pemeriksaan sementara, polisi sudah mengetahui sejumlah jaringan sindikat TPPO tersebut dimana
DS sendiri merupakan kaki tangan dari ‘J’ yang saat ini sedang dikejar polisi. J sendiri merupakan jaringan dari ‘E’, warga negara Malaysia yang juga masih diselidiki pihak kepolisian.

Dari hasil pekerjaaannya ini, tersangka DS mendapatkan bayaran Rp 20 juta per orang. Dari jumlah ini, tersangka DS menyisihkan Rp 3 juta untuk tersangka AD untuk sekali perekrutan. “Per kepala, tersangka DS mendapatkan bayaran dari calon tersangka J sebesar Rp 20 juta. Sementara tersangka AD mendapatkan fee Rp 3 juta per orang yang direkrut dan dikirim ke Malaysia secara ilegal,” ungkap Wadir Reskrimum Polda NTT tersebut.

Atas perbuatannya, dua tersangka dijerat dengan pasal 2 ayat (1), pasal 6, pasal 10 UU nomor 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang jo pasal 55 ayat (1) ke 1e KUHP dengan ancaman hukuman diatas 10 tahun penjara. (Nuel/Put)

Pos terkait