Ekonomi

Kamis, 18 Juli 2019 - 16:01 WIB

5 bulan yang lalu

logo

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Sibolga, Robinhot Panjaitan (putma/digtara)

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Sibolga, Robinhot Panjaitan (putma/digtara)

Ini Penyebab Mahalnya Harga Cabai di Sibolga

digtara.com | SIBOLGA – Harga cabai merah di Kota Sibolga, Sumatera Utara, bertahan tinggi dalam dua bulan terakhir. Komoditi berasa pedas itu dijual antara Rp.60 ribu-Rp.70 ribu perkilogramnya.

Kondisi ini pun telah membuat tingkat inflasi di Kota Sibolga naik sangat signifikan.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Sibolga, Robinhot Panjaitan, menyebutkan, pihaknya sudah melakukan sejumlah cara untuk segera menurunkan harga jual komoditi cabai merah di pasar. Seperti melakukan pemantauan berkala bersama PD Pasar Sibolga untuk memastikan tidak ada spekulasi harga oleh pedagang. Namun upaya tersebut belum mampu menurunkan harga.

Harga tetap tinggi disinyalir lantaran harga dari pemasok cabai ke Sibolga juga mengalami kenaikan. Pasokan cabai ke Kota Sibolga selama ini datang dari empat kabupaten, yakni Toba Samosir, Humbang Hasundutan, Dairi dan Karo.

“Harga dari pemasok sendiri memang mengalami kenaikan, karena memang pasokan berkurang,”ujar Robinhot kepada digtara.com di ruang kerjanya, Kamis (18/7/2019).

Robinhot lebih lanjut menyatakan, minimnya pasokan cabai karena para petani di sentra-sentra pemasok cabai itu mengalami gagal panen.

“Cabai merah sulit diperoleh, karena gagal panen akibat faktor alam yang terjadi dari Mei hingga Juli ini. Disisi lain penyempitan lahan daerah produksi atau alih fungsi lahan membuat salahsatu faktor minimnya produksi, sehingga berhimbas pada tingginya harga,” pungkasnya.

Robinhot mengaku pihaknya sudah mencoba menstimuasi munculnya regulasi untuk mengendalikan harga cabai di Sumatera Utara, termasuk di Kota Sibolga. Namun hingga saat ini regulasi yang diharapkan, belum juta terealisasi.

“Pada rapat TPID saya sudah sampaikan bahwa harus ada regulasi tersendiri tentang produksi cabai, bukan tanpa alasan saya sampaikan, karena hinggga saat ini cabai merah sebagai penyumbang inflasi di Sumatera Utar. Kiranya Pemprovsu mengatur regulasi massa penanaman cabai di daerah sentra, jika sewaktu terjadi paceklik, kekurangan pasokan kebutuhan dapat teratasi,”tandasnya.

[AS]

Artikel ini telah dibaca 6 kali

Baca Lainnya