Menyedihkan ! Inilah Pengakuan Ibu Korban Kekerasan Balita Gizi Buruk

Digtara.com | Kupang – Erni Lakusaba (41) warga RT 01/RW 01 Kelurahan Oenesu Kecamatan Kupang Barat kabupaten Kupang Provinsi NTT hanya bisa menatap sedih anaknya Diana Damianti Sabneno di kasur ruang Kenanga RSUD Prof Dr WZ Yohanes Kupang, Kamis (18/7).

Ia tak tega mendengar rintihan kesakitan sang anak dan sedih melihat penderitaan anak bungsunya.

Ketika ditemui digtara.com di ruang perawatan anak ruang Kenanga RSUD Kupang, Erni menceritakan beban hidupnya dan perlakuan kasar sang suami, Abraham Sabneno (45) yang kini masih dalam pengejaran polisi Polsek Kupang Barat karena menganiaya Diana Damianti Sabneno hingga mengalami patah tulang tangan dan kaki kanan.

Dalam keseharian, pelaku yang juga ayah korban hanya tinggal dirumah tanpa ada aktivitas. Erni lah yang mencari nafkah dengan berjualan sayur di beberapa lokasi dan kadang dibantu anak-anak yang lain.

Karena korban Diana kurang sehat akibat gizi buruk dan belum bisa berjalan maka Erni meninggalkan korban dirumah dengan pelaku. Korban dijaga oleh pelaku. namun korban sering rewel dan sering menangis karena kurang sehat.

Rupanya pelaku merasa risih dan mengangggap korban membuat keributan sehingga pelaku tidak tenang. Akibatnya, pelaku membakar sekeliling mulut korban menggunakan api rokok hingga luka dan menganiaya korban hingga korban mengalami patah tulang pada lengan kiri dan paha kiri.

Aksi kekerasan ini bukan saja dialami korban namun juga sudah sering dialami kakak korban yang lain. Pelaku yang jarang bergaul dengan tetangga dan masyarakat lain lebih banyak berdiam diri dirumah dan cenderung tertutup.

Hal ini dibenarkan tetangga korban dan pelaku, Godlief Polin (42) saat ditemui di rumah pelaku, Kamis (18/7) pagi. Menurut pengakuannya pelaku tidak pernah bersosialisasi dengan tetangga dan masyarakat lain.

“Pelaku lebih banyak dirumah. Hanya istrinya yang sering jualan sayur. Kami pun jarang melihat pelaku,” tandasnya.

Korban Diana yang juga penderita gizi buruk ini bersama ibunya sempat dibawa ke Puskesmas Batakte Kupang barat untuk divisum. Ibu korban juga menjelaskan bahwa sebenarnya sudah sering terjadi aksi kekerasan dari pelaku, namun ia tidak pernah melapor karena takut terhadap pelaku apabila melaporkan kejadian tersebut.

Pelaku Abraham juga melakukan penelantara dan penyiksaan terhadap anak-anaknya dengan cara pelaku mengikat salahsatu anaknya di pohon dan mengurung di kandang kambing.

“Kejadian itu memang betul dan sudah sering terjadi. Saya berusaha sabar,” tandasnya.

Saat melakukan visum/pemeriksaan medis, drg Ayu Soraya yang berdinas di Puskesmas Batakte melihat kondisi korban yang sangat buruk dan prihatin serta orang tuanya tidak mampu.

drg Ayu Soraya langsung memberi bantuan dengan membawa korban ke Rumah Sakit Umum Yohanes Kupang untuk dirawat lebih insentif guna perawatan yang lebih baik dengan keadaan kondisi yang di alami oleh lorban.

Pelaku dan Erni berasal dari Amfoang Barat Laut Kabupaten Kupang, lalu datang dan tinggal di pedalaman Oenesu Kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang dan jauh dari perkampungan dan rumah warga lainnya.

Hingga saat ini Abraham dan Erni belum menikah secara sah dan sampai dengan saat ini pelaku dan Erni belum melapor diri ke aparat pemerintah setempat/Kelurahan sebagai warga yang berdomisili di tempat tersebut.[win]

Pos terkait