“Mangalomang” Tradisi Masyarakat Madina Saat Malam Hari Raya

Mangalamong atau memasak lemang, tradisi yang dijalankan perempuan Mandailing Natal setiap malam jelang hari raya (agus/digtara)

digtara.com | MADINA – Jelang tengah malam, saat takbir dari menara masjid bersahutan menyebutkan keagungan Allah, sekelompok perempuan di Kabupaten Mandailing masih terjaga diperapian, Sabtu (10/8/2019).

Bukan untuk menghangatkan badan, mereka masih terjaga karena sedang memasak lemang untuk disantap keluarga saat bersilaturahmi usai Salat Idul Adha esok hari.

Muat Lebih

Lemang adalah penganan berbahan dasar beras ketan, santan dan garam yang dimasukkan ke dalam bambu kemudian dimasak di atas bara api selama 3 hingga 4 jam.

Suaidah Pulungan, mengatakan Mangalomang atau memasak lemang bersama ini merupakan tradisi yang dilaksanakan setiap lebaran Idul adha dan Idul Fitri. Tradisi ini hingga kini masih terus di lakukan para kaum perempuan di Madina.

“Kita berupaya untuk terus menjaga tradisi ini. Agar terus hidup di generasi berikutnya. Kami peracaya ada kebaikan di setiap tradisi yang kita laksanakan,”sebutnya.

Suaidah mengaku setiap memasak lemang, mereka bisa memasak hingga 30 batang bambu. Masing-masing pemasak sudah meracik olahan lemangnya sendiri-sendiri.

Masak lemang ini juga bertujuan untuk menjalin sllaturrahmi antar tetangga, dan memeriahkan malam lebaran Idul Adha.

“Lemang juga merupakan makanan yang selalu di padu dengan gulai rendang atau sirif, yang selalu di sajikan di setiap tamu yang datang ke rumah,”ungkapnya.

[AS]

Pos terkait