Berita Pilihan Kabar

Selasa, 24 September 2019 - 18:03 WIB

3 bulan yang lalu

logo

Selain Suspect Difteri, Mahasiswa Kedokteran USU Asal Malaysia Juga Idap Lupus

digtara.com | MEDAN – Tim dokter Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik dalam klarifikasinya mengungkap bahwa mahasiswi kedokteran USU asal Malaysia yang sebelumnya menjadi pasien suspect difteri ternyata juga mengidap penyakit Lupus.

Manajemen RSUP HAM memberikan klarifikasi dengan menggelar temu pers dan menghadirkan dokter-dokter yang menangani langsung kasus ini serta dokter spesialis lainnya. Mereka antara lain dr. Restuti Hidayani Saragih, SpPD, dr. Linda I Adenin, Sp.THT-KL, dr. Rina Yunita, SPMK, dr. widi raharjo, Sp.P (K) dan dr. Zuhrial, SP.PD-KAI.

“Pasien masuk dengan keluhan sesak nafas, sulit menelan, demam dan leher membengkak,” ujar, Restuti Hidayani Saragih saat temu pers, Selasa (24/9/2019).

Menurut dokter utama yang menangani pasien itu, gejala-gejala tersebut merupakan tanda-tanda suspect difteri pada tahap lanjut. Selain itu juga ditemui tanda khas di rongga dan langit-langit mulut sampai pangkal kerongkongan, berupa membran putih keabuan yang sulit dilepas.

Dia menjelaskan, diagnosis suspect difteri dilakukan berdasarkan keluhan gejala klinis pemeriksaan fisik. Gejala-gejala tersebut sesuai dengan panduan medis difteri terbaru yang diterbitkan Kementerian Kesehatan pada 2018. Sehingga kemudian mereka mengategorikan pasien sebagai “probable difteri” atau, secara klinis menderita penyakit difteri.

Meski demikian, kepastiannya memang tetap menunggu hasil laboratorium dan obyek yang menjadi sampel adalah usapan pada tenggorok pasien yang diambil petugas dinkes pada jumat (20/9/2019) sore. Sampel tersebut sudah dikirim ke Litbang Kementerian Kesehatan dan saat ini masih diproses.

Setelah dirujuk dari Rumah Sakit USU, pasien berinisial nama NA tersebut langsung mendapat penanganan penyakit difteri. Alasannya, kata Dokter Restuti, mereka tidak bisa menunggu hasil laboratorium Kemenkes yang memakan waktu hingga satu minggu. Terlebih hasil uji lab pun harus diumumkan oleh Litbang Kemenkes itu sendiri.

Oleh sebab itu, karena gejala-gejala klinisnya mengarah kuat ke penyakit difteri maka prosedur medis yang diberikan juga untuk penanganan pasien difteri. Pertama yakni dengan memberikan ADS (Anti Diftery Serum) dengan dosis yang sesuai. Begitu juga dengan pengobatan terkait lainnya.

Namun, ternyata diketahui bahwa pasien juga mengidap persoalan kesehatan lain yang menjadi pemberat, yakni penyakit Lupus. Penyakit Lupus adalah penurunan daya tahan karena penyimpangan sistem kekebalan tubuh.

“Beliau (pasien NA) sudah punya riwayat penyakit demikian. Ini yang menjadi pemberat,” ujarnya.

Para dokter Adam Malik meyakini penyakit pemberat ini yang mendorong kondisi pasien NA memburuk dan kemudian meninggal dunia.

“Beliau adalah mahasiswa kami karena rumah sakit ini adalah rumah sakit pendidikan. Kami sudah berbuat semaksimal mungkin menanganinya,” pungkas Dokter Restuti.

[AS]

Artikel ini telah dibaca 84 kali

Baca Lainnya