Tekno

Sabtu, 5 Oktober 2019 - 14:24 WIB

2 bulan yang lalu

logo

Ilustrasi ekonomi digital (ilustrasi)

Ilustrasi ekonomi digital (ilustrasi)

Mahasiswa Harus Pahami Disrupsi di Era Digital

digtara.com | JAKARTA – Mahasiswa diajak untuk segera memahami disrupsi yang terjadi di era digital saat ini. Sehingga mereka benar-benar memahami tantangan perubahan di berbagai sektor, sebagai danpak dari proses digitalisasi dan internet of thing (IoT).

Deputi Infrastruktur Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf), Hari Santosa Sungkari mencontohkan, perbedaan menonton film dari bioskop dengan di pengembang penyedia film secara online, Netflix.

Perbedaan antara keduanya terletak pada sensasi yang dapat dirasakan oleh konsumen. Menurut Hari, dengan menonton film di bioskop, konsumen dapat merasakan sensasi atau pengalaman yang berbeda. Namun pengalaman yang dijual oleh bioskop tersebut dikalahkan oleh Netflix yang lebih mudah diakses bagi konsumen yang tidak dapat menjangkau bioskop.

“Kasus itu adalah contoh inovasi pada era disrupsi,”kata Hari saat menjadi pembicara dalam dialog yang bertema Sukses Menjadi Entrepreneur Muda di Tengah Era Disrupsi, yang digelar Departemen Manajemen Bisnis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya pada Kamis 3 Oktober 2019 kemarin.

Contoh lain, sebut Hari, terjadi pada portal pemberitaan yang mulai bergeser dari media cetak ke media daring, ojek pangkalan menjadi ojek online, dan mal atau pasar menjadi marketplace atau toko online (e-commerce), dan digitalisasi lainnya.

Kemajuan yang terlalu pesat ini berimplikasi pada beberapa jenis pekerjaan yang mulai tergantikan oleh Artificial Intelligence (AI). Hari menyebutkan bahwa beberapa perusahaan kini sudah mulai beralih ke optimalisasi Closed Circuit Television (CCTV) ketimbang menggunakan tenaga satpam dan pemanfaatan AI sebagai customer service.

Adanya inovasi disruptif ini, Bagi Hari, dapat menciptakan pasar baru yang akhirnya mengganggu pasar dan jaringan nilai yang ada. Maka tak heran banyak bisnis terkenal yang kini gulung tikar karena tidak mampu beradaptasi dengan era disrupsi.

“Ekonomi kreatif adalah salah satu solusi di era disrupsi,” ungkap Pria yang berlatar belakang pendidikan arsitektur itu.

Ekonomi kreatif ialah suatu konsep perekonomian yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengedepankan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi yang paling utama.

Mengutip dari buku Pengembangan Industri Kreatif Indonesia 2025, Hari menyebutkan bahwa ada 14 jenis ekonomi kreatif yaitu: periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, kuliner, desain, fashion, film, video, dan fotografi, musik, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer dan piranti lunak, radio dan televisi, serta riset dan pengembangan.

Dari semua jenis ekonomi kreatif, salah satu yang sedang digandrungi anak muda saat ini adalah start-up. Start-up merupakan perusahaan rintisan yang lebih identik dengan bisnis yang berbau teknologi, web, internet dan sejenisnya.

Hari berpesan bahwa mahasiswa sebagai generasi muda hendaknya menciptakan start-up yang dibutuhkan di pasar dan dapat menyelesaikan problem masyarakat. Hari juga menyampaikan bahwa hal yang paling krusial dalam berwirausaha adalah eksekusi. Di akhir sesinya, Hari mengutip kalimat bijak, vision without execution is just hallucination.

“Bukan genius yang dapat membuat suatu usaha sukses, melainkan ketekunan dalam mengeksekusinya,”demikian Hari seperti dilansir laman resmi ITS, Sabtu (5/10/2019)

[AS]

Artikel ini telah dibaca 26 kali

Baca Lainnya