Warga Kupang Tewas Gantung Diri di Kuburan

  • Whatsapp
Gantung Diri (ilustrasi/ist)

digtara.com | KUPANG – Marthinus Riwoe alias Pago alias Ama Gopa (47), warga RT 16/RW 04 Kapadala Kelurahan Airnona Kecamatan Kota Raja Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ditemukan tewas gantung diri.

Korban gantung diri dengan tali nilon warna kuning ukuran jempol orang dewasa, Rabu (9/10/2019) di kawasan kuburan Katolik di Kapadala Kelurahan Airnona. Korban pertama kali ditemukan oleh Ruben Loden (56), tukang gali kuburan yang kebetulan melintas di sekitar tempat kejadian perkara.

Muat Lebih

“Saat itu saya hanya lihat celana korban. Tapi saya heran orang nya tidak bergerak sehingga saya cek ternyata korban sudah tewas dengan tali tergantung di leher nya,” ujar Ruben Loden saat ditemui di lokasi kejadian.

Kabar penemuan korban pun disampaikan kepada kerabat korban dan warga sekitar serta ke polisi di Polsek Oebobo.

Saat ditemukan, leher korban terikat tali nilon warna kuning dan salah satu ujung tali dikaitkan pada atap rumah yang dijadikan rumah untuk menaungi 3 kuburan di sekitar lokasi kejadian.

Korban saat itu mengenakan sandal jepit warna hitam, celana pendek warna coklat, kaos leher bulat warna hitam dan menggunakan tas warna merah merk eiger. Magdalena Manu (57), ketua RT setempat yang ditemui secara terpisah mengaku kalau pada Selasa (8/10/2019) korban masih datang ke rumah ketua RT untuk makan sirih pinang.

“Dia (korban) masih sempat pijat badan saya dan kami masih makan sirih pinang dan bercerita,” ujar Magdalena Manu.

Korban diperkirakan gantung diri sekitar pukul 11.30 wita atau setengah jam sebelum ditemukan. Aparat keamanan dari Polsek Oebobo langsung melakukan olah tempat kejadian perkara dan memasang garis polisi di sekitar lokasi kejadian.

Petugas identifikasi dari Sat Reskrim Polres Kupang Kota pun melakukan identifikasi dan mengevakuasi tubuh korban ke rumah sakit Bhayangkara Titus Uly Kupang. Polisi juga mengamankan barang bukti tali nilon warna kuning dan pakaian korban termasuk sandal dan tas korban.

Kesedihan mendalam dialami para kerabat korban terutama pada keponakan korban yang menangis histeris sejak dari tempat kejadian hingga jenasah dibawa ke rumah sakit Bhayangkara.

Ma’aka Djami Rafa (35), calon istri korban menjadi orang yang paling terpukul dengan jalan hidup yang dilalui korban.

Ia terus menangis dan histeris atas peristiwa yang dialami korban. “Semalam dia (korban) tidak pulang ke rumah tapi tadi pagi dia masih lewat di depan rumah,” ujar Ma’aka yang mengaku kalau mereka sudah hidup bersama dan tinggal serumah dan sedang merencanakan untuk menikah secara sah.

Kapolsek Oebobo, Kompol Ketut Saba mengaku kalau dari hasil visum luar tidak ditemukan tanda kekerasan.  Polisi hanya menemukan bekas luka dan bengkak pada leher korban karena bekas tali.

“Ada air mani dan kotoran korban serta air liur yang menguatkan dugaan kalau korban gantung diri,” ujar mantan Kapolsek Katikutana Polres Sumba Barat ini,

Pos terkait