Aksi ‘Risk Apetite’ Investor Pemicu Harga Emas Turun

  • Whatsapp
Emas Murni (ilustrasi/net)

digtara.com | JAKARTA – Dalam beberapa waktu terakhir, Harga emas keluaran PT Aneka Tambang (Antam) terus bergerak turun.

Berdasarkan data Logam Mulia pada Sabtu (18/10) kemarin, di mana harga emas Antam tercatat masih turun Rp 2.000 ke level Rp 756.000 per gram. Kondisi tersebut diikuti penurunan harga buyback emas sebesar Rp 2.000 menjadi Rp 678.000 per gram.

Muat Lebih

Walaupun selama pekan lalu harga emas Antam bergerak relatif datar, dibanding awal September posisi harga emas sekarang lebih rendah.

Menanggapi hal tersebut, Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf menjelaskan, penurunan yang terjadi pada harga emas Antam mengikuti pergerakan harga emas global yang tengah merosot.

Di mana pemicu penurunan berasal dari meningkatnya aksi risk apetite investor yang cenderung memburu aset-aset berisiko tinggi seperti saham, ketimbang emas.

“Ini tercermin dari bursa saham global yang juga naik. Apalagi pekan lalu ada dua agenda yang mendorong risk apetite investor, yakni negosiasi perdagangan AS dan China, serta perkembangan Brexit,” kata Alwi.

Negosiasi antara AS dengan China dinilai mulus. Presiden AS Donald Trump bersedia menunda pengenaan tarif impor terhadap barang-barang China senilai US$ 500 miliar.

Di sisi lain, China juga sepakat untuk membeli produk pertanian AS senilai US$ 40 miliar hingga US$ 50 miliar, dan kondisi tersebut berhasil memberi sentimen positif di pasar.

Sentimen lain yang membuat harga emas kian tertekan, termasuk emas Antam, berkaitan pertemuan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dengan Perdana Menteri Irlandia Leo Varadkar untuk membahas rencana Brexit.

Lewat pertemuan tersebut, sinyal Inggris keluar dari Uni Eropa dengan kesepakatan atau deal Brexit kian menguat dan memberi sentimen positif di pasar.

“Jadi bukan hanya aset safe haven yang melemah, dua sentimen pekan lalu juga sukses mengangkat aset berisiko. Kekhawatiran perang dagang dan no-deal Brexit yang mereda membuat harga emas terkoreksi, termasuk emas Antam,” ujarnya.

Meskipun begitu, Alwi optimistis prospek emas Antam hingga akhir tahun masih menarik. Potensi ketidakpastian masih tetap ada di pasar, termasuk belum adanya hitam di atas putih, hasil negosiasi AS dan China serta Brexit.

Sekadar catatan, tenggat pengumuman Brexit baru akan disampaikan pada 31 Oktober. Risiko ketidakpastian masih tetap ada.

Di sisi lain, masih ada Federal Open Market Committe (FOMC) akan menentukan arah kebijakan moneter melalui penetapan kisaran suku bunga acuan Fed Fund .

Beberapa sentimen tersebut, disinyalir mampu menjadi penopang kenaikan harga emas di sisa akhir 2019.

“Penurunan yang terjadi beberapa hari terakhir ini justru menjadi kesempatan untuk mulai buy on weakness, dengan target harga akhir tahun Rp 775.000 per gram,” proyeksinya.

Adapun untuk level support di sisa akhir 2019 berada di level Rp 745.000 per gram. Alwi tidak menampik bahwa harga emas Antam masih memiliki peluang tembus Rp 800.000 per gram, jika proses Brexit mengalami kebuntuan dan Donald Trump kecewa terhadap negosiasi perang dagang.

“Kalau dua isu itu kembali mencuat, tidak menutup kemungkinan level Rp 800.000 per gram terkejar tahun ini,” tandasnya.

Pos terkait