Rupiah Melemah Bertengger di Level Rp16.556 Per Dolar AS

  • Whatsapp
Kurs Rupiah Spot
Kurs Rupiah Spot Diproyeksikan akan Kembali Menguat (Kurs Rupiah Spot (ilustrasi/net))

digtara.com – Pada perdagangan Senin (6/4/2020) kurs rupiah di kurs tengah Bank Indonesia kembali melemah.

Rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI ada di Rp 16.556 per dolar Amerika Serikat (AS).

Kurs rupiah melemah 0,55% dari akhir pekan lalu yang ada di Rp 16.464 per dolar AS.

Bacaan Lainnya

Pelemahan rupiah ini sejalan dengan pergerakan rupiah di pasar spot. Senin (6/4) pukul 11.00 WIB.

Rupiah di pasar spot ada di Rp 16.500 per dolar AS, melemah 0,42% dari akhir pekan lalu.

Rupiah melemah bersama mayoritas mata uang Asia lainnya. Ringgit Malaysia memimpin pelemahan mata uang Asia terhadap dolar AS dengan pelemahan 0,46%.

Yen Jepang melemah 0,26%, won Korea melemah 0,18%, pesso Filipina melemah 0,15%, yuan China melemah 0,08%.

Dolar Singapura melemah 0,01% dan dolar Hong Kong melemah 0,008% terhadap dolar AS.

Di mana Kurs rupiah terus melemah ditopang Kekhawatiran akan sebaran virus corona atau Covid-19 dan buruknya data ekonomi Amerika Serikat (AS).

Meskipun begitu, tekanan terhadap rupiah diharapkan bisa melunak di kuartal II-2020.

Mengutip data Bloomberg secara year to date (ytd) hingga 31 Maret 2020, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat melemah 17,62% ke level Rp 16.310 per dolar AS.

Sementara itu, pada perdagangan akhir pekan ini (3/4) rupiah tercatat menguat sebanyak 0,39% ke level Rp 16.430 per dolar AS.

Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo menyampaikan, pengesahan paket stimulus fiskal yang dirilis Amerika Serikat (AS) sebesar US$ 2 triliun di tengah wabah Covid-19 meningkatkan sentimen pasar.

Arus modal investasi dinilai Sutopo masih menjadi faktor kunci untuk pergerakan pasangan USD/IDR ke depan.

Sementara itu, Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengisyaratkan bahwa paket stimulus fiskal lanjutan tidak akan dibahas sampai selesai libur Paskah.

Dengan begitu, fokus pasar bergeser ke data ekonomi terbesar dunia tersebut.

“Data akan memberikan indikasi dan pandangan tentang kerusakan isolasi sosial terhadap pertumbuhan ekonomi AS,” jelasnya.[kontan]

Pos terkait