Ironi Perlambatan Ekonomi di Tengah Trend Suku Bunga Yang Menurun
digtara.com | MEDAN – Tren perkembangan suku bunga acuan akhir-akhir ini terus mengalami penurunan. Suku bunga acuan BI 7 Day Repo Rate saat ini sudah bertengger dikisaran 5%, setelah beberapa kali diturunkan pemerintah.
Baca Juga:
Sementara suku bunga acuan global yang dimotori oleh The FED Fund Rate (Bank Sentral AS) diperkirakan juga akan kembali dipangkas dalam waktu dekat ini. Dipangkas dari posisinya yang sekarang masih sebesar 2%.
Tren suku bunga rendah tengah terjadi pada banyak bank sentral di dunia. Kebijakan ini untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi, di tengah melambatnya pertumbuan output banyak industri di dunia. Pemicunya tidak lain adalah perang dagang, brexit, masalah geopolitik hingga stagnasi pertumbuhan ekonomi global yang tengah memasuki titik pertumbuhan jenuh.
Namun, tren penurunan suku bunga belakangan ini, tidak akan memberikan kontribusi signifikan terhadap laju pertumbuan ekonomi domestik. Penurunan BI 7 Days Repo Rate masih belum mampu mengangkat pertumbuhan ekonomi nasional ke luar dari jebakan 5%. Dan tren penurunan suku bunga acuan global yang juga mengalami penurunan, juga tidak memberikan dampak besar.
Yang ada malah tren pertumbuahan ekonomi global akan melambat di tahun depan. Bahkan justru masuk dalam kubangan resesi. Perang dagang yang terjadi antara AS dengan Tiongkok justru mengakibatkan proteksi dari Tiongkok dengan mengambil langkah melemahkan mata uangnya sendiri Yuan. Kebijakan tersebut diambil untuk mengakselerasi ekspor China yang tertekan akibat kenaikan tarif oleh AS.
TERHADAP SUMATERA UTARA
Sumatera Utara juga merasakan dampaknya. Tren perkembangan harga komoditas mengakibatkan Sumatera Utara harus banyak kehilangan daya beli. Laju pertumbuhan ekonomi bahkan tetap di bawah 5.3%. Suku bunga yang cenderung turun, ternyata tidak memberikan dampak besar bagi perekonomian di Sumut.
Penyerapan kredit justru hanya tumbuh 2.83% yoy di kuartal kedua 2019. Melambatnya laju pertumbuhan ekonomi dunia berdampak pada lambatnya penyerapan kredit perbankan di wilayah ini. Kondisi seperti ini sangat mengkuatirkan, stimulant penurunan suku bunga tidak mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi, yang bisa saja ini sebagai gejala dimana resesi memang sudah terjadi di sejumlah negara lain.
Tetapi kita tunggu upaya pemerintah menghindari tekanan tersebut. Karena menurut hemat saya, sulit bagi kita untuk menghindar dari kemungkinan resesi ekonomi di tahun depan. Terlebih jika dalam waktu dekat The FED menurunkan suku bunga namun justru tidak memberikan dorongan peningkatan industri di AS, atau justru pertemuan AS dengan China tidak menemukan jalan keluar.
Jika itu yang terjadi, maka diperkirakan BI masih akan menurunkan suku bunga acuannya di masa yang akan datang. Karena penggerak ekonomi kedepan akan lebih banyak dimotori oleh belanja pemerintah dari sisi fiscal, dan penurunan suku bunga acuan dari sisi moneternya.
Penulis: Gunawan Benjamin, Analis Pasar Modal serta Ekonom dari Universitas Islam Negeri Sumatera Utara